Human Interest, Mengabadikan Ketulusan Dalam Setiap Emosi

September 02, 2016

     Memotret dengan genre Human Interest (HI) memang menjadi salah satu genre foto yang paling saya sukai. Sejak mengenal kamera dan belajar fotografi, objek yang pertama kali saya foto adalah manusia yaitu teman saya sendiri di sma hehe. Saat itu saya masih belum memiliki kamera, awalnya iseng coba-coba saja pinjem kamera temen buat motretin dia, eh ternyata banyak teman saya bilang hasil foto saya bagus dan sejak saat itu saya semakin menyukai fotografi hingga saya memilih memasuki jurusan multimedia broadcasting, kemudian saat kerja praktik, Alhamdulillah saya berkesempatan menjadi wartawan magang di kantor berita Antarajatim.com  dan setelah mengincipi dunia jurnalistik, saya pun sadar dan akhirnya benar - benar mengetahui apa yang saya inginkan dalam hidup, seolah menemukan jiwa yang hilang selama bertahun - tahun, saya telah jatuh cinta pada fotografi dan dunia jurnalistik :D Dibawah ini contoh hasil foto  saya saat awal masuk kuliah dan juga salah satu foto yang momentnya saya sangat sukai.

Seorang kakek menggendong cucunya di Bungkul, Surabaya, Jawa Timur. Taman Bungkul menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai ketika hari libur khususnya pada hari minggu, selain berolah raga dan menikmati car free day, di Taman Bungkul, Anda juga dapat menemukan berbagai kudapan kuliner yang beragam.



     Kembali pada fotografi human interest, bagi saya setiap emosi yang terekam pada foto HI memiliki pesan khusus, karena setiap foto yang diambil natural saja, tidak ada rekayasa seperti pada foto model dan lainnya, terdapat ketulusan dalam setiap emosi yang tercipta yang dapat terekam dalam gerakan (aktivitas), sorot mata, dan juga ekspresi dari seseorang yang dimana dalam setiap emosi yang terekam dengan sigap dan tepat akan mengabadikan moment yang berharga pula. Dan alasan lain kenapa saya lebih menyukai memotret manusia adalah karena saya bisa mendapatkannya dimana - mana, meski bukan berarti bahwa memotret human interest itu sangat mudah ya. Kita mengetahui bahwa skill ditentukan dari man behind the gun, bukan?

Seorang Ibu sedang menulis di Surabaya, Jawa Timur. Membaca, Menulis, dan Diskusi merupakan salah satu metode yang dapat digunakan guna mengembangkan wawasan seseorang, selain itu ketiga aktivitas tersebut  juga baik untuk mengasah otak sehingga akan menurunkan resiko terkena pikun. 

     Foto HI banyak juga dipakai utnuk foto berita. mengingat salah satu unsur penting dalam foto berita adalah manusia. sehingga jika Anda ingin mendalami foto jurnalistik ada baiknya juga menekuni foto human interest. Saat magang, saya dibimbing langsung dan ikut terjun ke lapangan bersama pewarta dari Antara, saat pertama kali magang, banyak sekali kritikan dan masukkan atas foto-foto yang telah saya ambil, mulai dari mencari bagaimana Antara selalu mencari angle foto berita yang berbeda, foto yang diambil harus ekspresif dan bercerita, juga foto harus mengandung EDFAT + 5W1H, dlsb. Banyak nggak salahnya? Wah ya banyak sekali. Ya Maklum namanya juga belajar, dan karena saya tipe orang yang sangat suka dikritik dan gampang termotivasi, ya menyenangkan saja :) selain itu, karena magang juga saya jadi tahu pewarta foto itu ternyata sangat keren lho, dalam kondisi terdesak pun harus tetap menghasilkan foto yang cemerlang. hasil perpaduan repetisi kebiasaan dan bekal ilmu yang matang.






copyright Journalholic.blogspot.com

You Might Also Like

0 komentar

SUBSCRIBE ^^

recent posts

Instagram @aniswardhani_