Rela Mengorbankan Masa Muda, Jangan Sembarangan Juluki Wanita Karir

September 09, 2016

     Terkadang saya merenung, dan sedih ketika melihat teman - teman seusiaku dan dikelilingku bisa bermain, menikmati hidup dan bersenang senang ala anak muda seperti nongkrong di cafe, wisata kuliner, karaoke, dlsb. Terkadang pula batinku menjerit saat mereka memanggilku "wanita karir". Bukan karena apa, sebenarnya sangat bersyukur dengan kehidupan yang hebat ini. Tapi ada beberapa prespektif yang timbul dari berbagai kalangan mengenai wanita karir dan sebab prespektif inilah yang membuatku berpikir untuk menerima julukan seperti itu. Prespektif mengenai wanita karir pun sangat beragam mulai dari yang baik sampai buruknya. Baiknya? wanita karir digambarkan sebagai wanita yang sukses tentu saja dalam karir yang diraihnya, memiliki kekayaan yang cukup, dan  pekerjaan mentereng yang disandangnya. Buruknya? banyak juga. banyak yang menyangkut pautkan wanita karir sebagai wanita yang sibuk sehingga kehidupan rumah tangganya amburadul, gila harta dan tahta, jauh dari istilah "wanita sholihah" yang tinggal di rumah, dlsb. namanya juga prespektif. beragam. 

     Tapi pernahkah kita menanyakan alasan kenapa seorang wanita rela kerja keras, belajar ke jenjang yang lebih tinggi, rela mengorbankan masa muda yang menyenangkan dan memilih bertempur dengan pekerjaan yang penat dan penuh persaingan? setiap orang memiliki alasan masing - masing untuk menjalani hidupnya. Beberapa orang lahir dari keluarga yang berada. Memang tidak salah lahir dari keluarga miskin. tapi kalau kita mati miskin? itu adalah pilihan.  "If you are born poor, it's not your mistake. But, if you die poor. It's your mistake." - Bill Gates. Bagi orang  orang yang berkecukupan, sekolah tinggi bukan sesuatu yang sulit, mau kuliah ke dokteran atau di luar negeri, asal dana ada, semua jadi mudah, dan itu biasa bagi mereka. Sedangkan, untuk orang miskin? untuk makan saja susah apalagi memikirkan sekolah di luar negeri. Kalau mau sekolah tinggi ya kudu usaha dan dapat beasiswa, ya kudu berjuang. Orang kaya memulai usaha pun tidak terlalu berpusing   pusing dengan modal. memang yang membedakan orang kaya (sejati) dengan miskin adalah mindsetnya. Tapi tak semua orang memiliki mindset tersebut, bukan? 

     Terkadang, saat dihadapkan dengan pernyataan macam "nyantai ajalah... ngalir aja seperti air, jangan terlalu ambisius, bersyukur aja dengan keadaan" Pernahkah kita berfikir jika kita sukses maka kesempatan berbagi dengan lingkungan sekitar akan lebih hebat? kebanyakan, orang - orang berkata "nanti kalau sudah sukses, saya shodaqoh 3 M ke bla bla bla" dan benar saja. Bahkan Robert Kiyosaki penulis Rich Dad Poor Dad yang dia sendiri mengklaim dirinya orang kapitalis mengatakan bahwa orang macam itu adalah penipu besar. Kenapa tidak kita shodaqoh saja sebesar - besarnya saat ini? sambil melatih diri shodaqoh yang lebih besar saat kesuksesan yang lebih besar datang. Dalam buku Moslem Milionaire yang ditulis oleh Ipho Santosa pun mengatakan shoadaqoh saja sebesar - besarnya, biar Allah yang mengayakan. Pernahkah berfikir jika wanita karir mungkin bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih  sukses untuk orang - orang di sekitarnya? mungkin untuk menafkahi keluarga, membantu keluarga, membantu orang tak mampu di sekitarnya, membayar utang keluarga, bahkan turut mencerdasakan kehidupan bangsa. Mata kita terlalu dibutakan dengan tontonan media yang menunjukkan wanita karir untuk mencukupi lifestylenya yang glamor, mahal, dan berkilau, seolah semua wanita karir memiliki mata yang berbinar terhadap harta kekayaan, jabatan, dan martabat. Percayalah, tak semua sesuai dengan apa yang kita lihat, pikirkan dan dengarkan. Semua terjadi pasti karena suatu alasan. 

     Tulisan ini memang sebenarnya lebih ke arah curahan hati penulis yang merenungi ini berkali - kali hingga dirasa perlu menuliskan dan membagikan cerita ini, bukan karena sakit hati, namun lebih pada berbagi bagaimana pola pikir pada setiap individu akan menghasilkan tindakan yang berbeda dari individu satu dengan yang lain. Lihatlah proses. Bersyukur itu wajib. Namun, bermimpi setinggi - tingginya itu benar. Jatuh itu sakit. Memang. Tapi ketika mindset kita untuk sukses sudah terbentuk, saat jatuh pun pasti ada alasan untuk kembali bangkit.

Posting IG by @adiragapala 



© Journal Holic By Anis Wardhani

You Might Also Like

0 komentar

SUBSCRIBE ^^

recent posts

Instagram @aniswardhani_