Learning From My Leader

October 05, 2016

Rasanya hampir setiap bos saya ke kantor saya selalu mendapat pencerahan akan pelajaran - pelajaran baru yang sangat berguna. Entah kenapa saya lebih senang jika menyebut beliau dalam tulisan ini sebagai  Leader dari pada bos. Tugas beliau  memantau proyek yang ada di jawa timur dan memastikan semuanya berjalan lancar tanpa kendala membuat beliau  harus berkeliling jawa timur yang menjadi salah satu alasan kenapa saya juga jarang menemui beliau di kantor karena beliau lebih sering di lapangan. Jujur saja, awalnya berat bagi saya untuk bisa menerima dengan lapang daa pekerjaan yang  sangat jauh dari bidang yang selama ini saya pelajari di bangku kuliah. Saya yang sangat suka multimedia dan terbiasa dengan hal yang berbau fun khas anak- anak seni yang  kreatif tiba - tiba harus berkutat dengan angka dan duduk diam di depan laptop berjam -jam sebagai admin di perusahaan kontraktor, you know lah how it feel. Saya tak terbiasa duduk diam dan hanya fokus pada satu hal bagi saya itu seolah tak ada tantangan yang bisa dikerjakan seperti sensasi memotret dlsb dan ini membuat saya merasa sangat bosan bahkan ingin cepat-cepat menyudahi saja pekerjaan ini. Namun, apalah daya ketika melihat Ibu yang sangat senang karena saya sudah bekerja di saat teman-teman yang lain masih belum menikmatinya, saya pun harus memendam keinginan itu sementara waktu asal bisa melihat Ibunda senang. 

Jika dihitung, sudah sekitar 8 bulan  saya bekerja di tempat ini. Rupanya keinginan untuk resign tak terlalu kuat, malah saya rasa saya mulai mencintai pekerjaan ini, mungkin karena diawal manajemen waktu saya yang sangat buruk sehingga saya pikir tak akan ada waktu untuk mencoba hal lain karena waktu 24 jam akan habis  tersita di kantor dan di  perjalanan. Nyatanya sekarang saya bisa melakukan apa pun yang saya mau saat ini, hanya masalah prioritas saja, saat itu saya masih belum memahaminya. Selain syaa mulai bisa mengatur waktu, hal utama yang akan sangat saya sayangkan yaitu jika saya resign terlalu dini karena saya benar - benar membutuhkan ilmu dari Pak Leader tentang  belajar pondasi memulai bisnis. Sangat impresive dengan pemikiran yang beliau punya. Setiap sarannya seolah bisa menjadi berlembar - lembar quotes yang masing - masingnya dapat dijadikan bahan untuk menulis. Hampir setiap kali beliau bercerita, selalu ada kata motivasi yang bisa saya catat dalam buku harian, baik mengenai bisnis dan pelajaran hidup. Mungkin jika saya bekerja di perusahaan besar, saya tak mungkin bisa mendapatkan saran dan pelajaran yang luar biasa bermanfaat ini langsung dari atasan. Coba bayangkan saja pasti sangat sedikit bos diluar sana yang mau membagi kisah hidup dan memotivasi karyawannya seperti pimpinan saya saat ini dan aku sangat bersyukur bisa menyerap ilmu yang beliau bagi. 


Gagal mengajukan resign bukan berarti mimpi sebagai pengusaha terhenti, dari sini saya belajar, bahwa sebelum.memulai usaha, selain modal dan mindset adalagi yang sangat dibutuhkan yakni kemampuan managemen sdm yang baik. Menjadi pengusaha berarti nantinya kita akan memiliki karyawan yang mungkin akan lebih dari 10 karyawan yang akan kita pimpin dan jika kita tidak menjadi leader yang baik tentu akan berdampak buruk bagi perusahaan yg kita bangun nantinya. Keinginan saya untuk.resign dan membangun usaha sendiri tak pernah kuberi tahu pada orang - orang di kantor. Tapi Pernah suatu ketika, saya sedikit terhentak dengan kata - kata pak bos.

"Kalau mau keluar dari sini dan jabatannya masih tetap sebagai karyawan ya percuma, harusnya lebih" 

Deg. Tiba-tiba saya merasa malu, karena sering kali saya masih berpikir ingin bekerja sebagai karyawan di televisi, radio, dan perusahaan-perusahaan besar yang ada. Benar juga pikir saya. Jika a saat ini saya keluar dari pekeejaan ini dan  hanya akan mendaftar lagi sebagai karywan di tempat lain maka tak ada peningkatan yang telah saya lakukan, mungkin gaji yang diterima lebih besar, tapi tetap saja seorang  karyawan. Bukannya saya bermaksud memandang rendah karyawan, tapi itu berarti bahwa saya tak berpegang teguh pada prinsip dan mimpi untuk berwirausaha, karena itu mimpi saya sejak dulu. Sekali lagi Beliau menyadarkanku. 

Banyak sekali pekerjaan diluar sana dengan gaji yang bervariasi pula. Mungkin pekerjaan yang kita lakoni saat ini memang bukan sesuai passion kita tapi cobalah bersyukur sejenak karena semua yang terjadi pasti punya tujuan dan manfaat dibaliknya. Setiap pekerjaan memiliki resiko, tapi bagaimana kita bisa mengambil pelajaran darinya itulah yang harus kita pelajari. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan olehNya untuk terus belajar lewat pekerjaan yang saya lakoni ini.

© Journal Holic By Anis Wardhani

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah mengunjungi Journal Holic, Silahkan Berkomentar dibawah ini.

SUBSCRIBE ^^

recent posts

Instagram @aniswardhani_