Kasus Pembuka (Part 1)

June 09, 2017




Mesin pembuat kopi sudah berdering, kepul asap kopi sudah mulai menerobos dari alat tersebut. Semerbak kopi mulai memenuhi isi kamarku. Mungkin aku harus berterima kasih pada mesin tersebut, hidup sendiri setidaknya sudah sedikit melelahkan untukku, dan mungkin akan lebih melelahkan jika aku harus bangun dan membuat kopiku sendiri secara manual. Secangkir kopi pagi ternyata belum cukup membuat mataku terbuka lebar. Tiga hari tidak tidur karena meliput beberapa kasus kemarin rupanya cukup membuatku sakit kepala hari ini. Kuteguk secangkir kopi ditanganku berharap semoga beberapa tegukan bisa membantuku menyegarkan badan. Jam diujung meja sudah menunjukkan pukul 7.15, disampingnya ada ponselku yang memang sengaja ku matikan sejak kemarin, jika tidak, pasti aku tidak akan punya kesempatan tidur sekitar  empat hari sampai sekarang. 

Menjalani profesi sebagai wartawan memang bisa sangat melelahkan. Bahkan selama sebulan ini aku baru masuk rumah sehari. Sering kali aku lebih memilih tidur di mess kantor karena terlalu lelah untuk pulang ke rumah, kalaupun pulang ke rumah pasti ada saja panggilan untuk segera berangkat meliput suatu kasus. Sudah sekitar tiga tahun ini aku menjalani profesi ini. Sebelum lulus aku sudah banyak bekerja di beberapa media sebagai wartawan, sehingga saat lulus tulisan - tulisanku yang sudah pernah tayang bisa menjadi bekal portofolioku untuk mendaftar di kantor berita lain. Meski terbilang baru terjun di dunia jurnalistik, tulisanku bisa terbilang cukup banyak, kebanyakan tulisanku berisikan berita kriminal, dan politik. Untuk takaran anak baru biasanya redaktur tidak mempercayakan anak baru untuk memegang kedua ranah ini karena takut berita yang disajikan tidak matang dan valid. Aku cukup beruntung. Sebenarnya bukan berarti wartawan lain tidak bagus dalam ranah ini, hanya saja memang disini passionku dalam menulis berita. Kebetulan relasi yang ku kenal cukup mendukung untuk meliput kasus semacam itu. Beberapa temanku menjadi jaksa, dan kepala reserse kepolisian   

Saat handphoneku mati ternyata ada sepuluh pesan yang masuk dari Bowo. Dia atasanku sebagai pimpinan redaktur. umur kami tak jauh beda, dia hanya selisih 2 tahun di atasku tapi sudah menjadi redaktur sejak dia masih umur 27 tahun. Dia mengirimkan rincian kasus yang baru ditemukan didaerah ciracas, ada beberapa detail yang dicurigainya, dia ingin aku mengecek ke lapangan untuk mengumpulkan data - data yang kami perlukan untuk dicermati. informasi yang masih segar, aku harus kesana sebelum wartawan lain mendatangi TKP. 

Benar saja, ternyata dari kantor bukan hanya aku yang ditugaskan, aku sedikit kalah cepat dengan Yudha. Dia teman satu kantorku, kami memang satu tim untuk meliput beberapa kasus, salah satunya kasus hari ini. Kuamati lokasi sekitar, warga sudah banyak berkumpul, ku terobos kerumunan  warga, tak lupa ditanganku sudah kupegang kamera sudah dalam posisi siap bidik. Di depanku tergeletak potongan tubuh dan cipratan darah, kasus mutilasi rupanya. jika dilihat dari darah dan warna kulit korban sepertinya korban dibunuh dua hari yang lalu. . 

"Kau sudah punya detailnya?" Tanyaku pada yudha. 
"Masih banyak yang harus diselidiki lagi" seseorang menyahutku dari belakang. Edy. Dia polisi reserse kriminal. Dari dialah biasanya aku mendapat bocoran detail informasi kasus dan jika bukan karenanya tentu aku tak bisa mendekati TKP dengan sejelas ini karena kami wartawan punya batasan dalam meliput berita  semacam ini. 
"Kau sudah lihat wajahnya?" Tanyanya sambil menengok ke jasad korban. 

Kubuka penutup koran yang menutupi wajah korban. Korban laki - laki sekitar umur 25 tahun, Korban berkulit putih dengan rahang yang tajam, tak ada benda yang tersemat di tubuh korban, dari laporan polisi diketahui korban bukan warga daerah ini, jasad korban ditemukan seorang bapak - bapak yang kebetulan lewat untuk mengambil rumput di daerah ini.

"Kalau aku wanita, sudah jatuh hati aku padanya"  Sahut Edy sambil berbisik kepadaku, aku hanya bisa tersenyum menyahutinya.

"Apa belum diketahui identitas korban?" Tanyaku pada tim penyelidik, mereka tak menjawabku hanya sekedar menatapku dan kembali ke tumpukan kertas mereka. Beberapa dari mereka menanyakan kepada tim forensik untuk kejelasan detail lainnya.

"Kau tahu apa yang paling kubenci ? Mereka hanya menganggapku sebagai wartawan amatiran dan tak menggubris pertanyaanku sama sekali" Edy menatapku dengan senyum di sudut bibirnya. Sebagai wartawan ini bukan jangkauanku, tugasku hanya mencari dan menggali informasi untuk dijadikan berita, namun naluri seorang wartawan terkadang lebih tajam dan analisa kami sering kali maju lebih cepat dibanding tim reserse kepolisian karena rumitnya sistem pelaporan yang ada di kantor mereka.

Banyak sekali warga yang melihat lokasi TKP, banyak juga yang menyerobot batasan polisi demi bisa melihat lebih dekat. Ini sudah menjadi kasus pembunuhan kedua di wilayah ini, detailnya pun hampir sama. Namun dari kepolisian pun belum ada kejelasan siapa identitas pembunuh dibalik dua kasus ini.

Kuamati jasad korban, ada sesuatu yang aneh dilihat dari koyakan pakaiannya, untuk kasus pembunuhan biasanya baju korban akan terkoyak parah karena perlawanan, namun baju korban hanya robek dibagian yang tersayat saja. pandanganku terhenti pada tangan kiri korban di kelingking korban bentuknya tidak rata, ada bekas cincin yang cukup jelas disana. Namun, petugas di TKP menyangkal adanya cincin atau benda melingkar yang cukup untuk jari korban di lokasi tersebut. Pada kasus sebelumnya juga ditemukan bekas yang sama pada jari kiri korban. dan beberapa detail juga sama miripnya. Kuambil handphone disakuku. Pak Bowo lah orang yang pertama kali kuberi informasi ini. Kami sudah menginvestigasi kasus ini sejak 4 bulan yang lalu, dan kejanggalan - kejanggalan ini mulai menunjukkan kesamaan ciri dan pola.

"Kau sudah selesai mengumpulkan data liputanmu? kembalilah ke kantor ada banyak data yang perlu kita cari "

lanjut Kasus Pembuka Part 2


© Journal Holic By Anis Wardhani

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah mengunjungi Journal Holic, Silahkan Berkomentar dibawah ini.

SUBSCRIBE ^^

recent posts

Instagram @aniswardhani_