Kasus Pembuka (Part 2)

November 01, 2017


Sesampai di kantor Bowo sudah sibuk dengan tumpukan koran - koran lama di atas mejanya. Aku dapat mengenalinya dari bau debu saat dia membolak - balik koran itu dan ujung jari Bowo yang menghitam karena debu yang menempel pada jarinya. Tidak biasanya dia begitu serius. Gerakan tangannya sangat cepat membolak balik koran  dan sorot matanya sangat tajam memperhatikan baris demi baris isi koran itu. Dia bahkan tak sadar bahwa dari tadi aku telah di depan mejanya sambil mengamati kesibukkannya itu. 

"Ah, Kau sudah datang? masuklah kedalam ada yang perlu kubicarakan denganmu" Dia dengan cepat berdiri dan aku mengikuti di belakangnya menuju ruang rapat.
"Apa yang kau dapat?"
"Baiklah, hanya sebagian kecil info yang kudapat dan sudah kuterangkan padamu rinciannya di telpon tadi." Dia mengangkat wajahnya dan memandangku dengan sedikit heran.
"Seharusnya kau tahu kasus ini tak se-sederhana yang kau fikirkan, bisa jadi pelakunya orang yang sama dengan kasus sebelum - sebelumnya, Kita harus berhati - hati karena pelaku ini cukup lincah"

Aku merenyitkan alisku, sudah kuduga ada sesuatu yang terjadi karena tak biasanya Bowo seserius ini. Dia menyodorkan beberapa tumpukan koran yang dari tadi di bolak - baliknya. Mataku tertuju pada salah satu judul yang terpampang. Headline berita itu menyebutkan beberapa laki - laki dinyatakan hilang dan jasadnya belum ditemukan. Koran ini merupakan koran keluaran kantor berita lokal dan tanggalnya menunjukkan bahwa koran ini dicetak dua tahun yang lalu pada bulan yang sama dan berkaitan dengan kasus pembunuhan empat bulan lalu dan kasus pembunuhan yang barusan terjadi mengidentifikasikan pola yang sama. Aku mengerti maksud Bowo. Kami pernah membicarakan kasus ini. Selama berminggu - minggu dilakukan pencarian korban namun hasilnya nihil dan akhirnya kepolisisan menutup kasus itu setelahnya. 

"Kau selalu kuberitahu, terkadang wartawan selalu tahu informasi kasus lebih cepat dibanding kepolisian bukan? Pola pada kasus ini hampir sama dan cara menangani kepolisian pun sama jadi akan muncul kemungkinan pula bahwa hasil kasusnya pun akan sama. Panggil Yudha dan kita lakukan investigasi lebih lanjut, aku akan masuk tim kalian. "

Bowo bergabung dengan tim kami, sepertinya malam - malam yang lebih panjang akan segera dimulai. Setiap Dia bergabung dengan tim kami, rasanya itulah malam terberat kami selama menjadi wartawan. Ruangan kami rasanya sesak dengan tumpukan berkas kliping koran terbitan lama. Aku baru menyadari hanya mejaku yang tampak sedikit normal dibanding meja yang lain. Debu koran lama bertebaran bisa kulihat dari sorotan cahaya matahari yang masuk menerobos dari celah jendela ruangan. Aku memutuskan mengganti pakaianku dengan pakaian yang lebih santai karena pasti nanti aku bahkan tak punya banyak waktu hanya untuk sekedar ganti baju.

Beginilah awal kami memulai menyelidiki kasus untuk jadi berita investigasi nantinya. Rasanya seperti kembali ke bangku kuliah untuk menganalisa beberapa buku dan menarik garis merahnya dengan tingkat ketelitian sepuluh kali lipat diatasnya, itupun hanya untuk pembuka, selanjutnya masih banyak proses yang harus kami tempuh agar berita itu siap difermentasi dan kemudian siap diketahui khalayak. Dulu pernah ku dengar dari seorang jaksa, semakin lama kasus difermentasi akan semakin terasa sedap saat kita bisa membukanya disaat yang tepat nanti. Salah satu permainan yang sangat penuh intrik ini dimainkan oleh banyak pihak dan saat hasil fermentasi itu telah tiba masanya kau akan tahu bagaimana mengatur negera ini triknya hanya dengan beberapa setting keadaan dan beberapa permainan yang harus kau tau celah dan trik di dalamnya, yang akhirnya mereka sebut makanan fermentasi itu dengan isu.

Kami sudah di dalam ruang rapat, ada empat orang saja dalam tim kami saat ini, Aku, Yudha, Bowo, dan Satriyo. Satriyo bergabung karena Bowo tahu dia cukup berpengalaman dan militan dalam mengungkap suatu kasus. Dulu Dia pernah menerbitkan buku tentang kasus korupsi dan teror pada pejabat instansi pemerintahan yang berhasil diungkapnya hingga kasus itu cukup menghebohkan banyak headline media kala itu.

"Jadi kau sudah menemukan informasi tentang korban?" Satrio menoleh padaku setelah dari tadi sibuk dengan telponnya menelpon beberapa saksi yang bisa dimintai keterangan.
"Ya, sudah kudapatkan beberapa data, alamat, dan beberapa kronologi dari saksi - saksi yang ada. Korban ternyata adalah calon pengantin dalam beberapa hari lagi. Calon pasangannya datang di ruang otopsi tadi. Aku akan segera memawawancarainya dalam waktu dekat "
"Apa kepolisisan sudah mencurigai beberapa orang sebagai tersangka?"
"Belum. masih belum ada kabar dari mereka. Aku akan ke kediaman korban sebentar lagi"
"Berhati - hatilah, segera telpon kantor kalau ada apa - apa"

Kuambil kunci motorku di atas meja. Aku harus ke kediaman korban sebelum hari semakin petang. Sesampai tempat parkir rasanya fokusku mulai menghilang, aku ingat kalau aku belum makan sama sekali dari kemarin malam. Pandanganku terhenti pada kaca spion motorku, ada sosok yang mengamatiku dari tadi.  Namun rasa lapar sudah mulai berkecamuk, ku putuskan makan terlebih dahulu di kantin belakang.

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Tak telalu banyak orang di kediaman korban, lingkungan rumah korban pun sepi seolah tak ada apapun yang telah terjadi. Aku berhasil menemui adik korban, tak banyak menunggu sebisa mungkin aku mewawancarainya tanpa membuatnya sedih atau menyinggung perasaan keluarganya. Dari hasil wawancara itu, kucoba memeriksa lokasi yang sering dikunjungi korban. Dari yang terdekat ada tempat pusat kebugaran yang biasa dikunjungi korban ketika sore hingga malam hari. Benar saja, lokasinya tak terlalu jauh dari rumah korban. Aku harus menyamar sebagai pengunjung untuk bisa masuk kesana, karena pasti mereka tak akan mau wartawan masuk kesana. Awalnya sangat susah mendapatkan data korban. Dari rekapan data yang ada disana aku menemukan data terakhir kali korban mengunjungi gym, korban diketahui rajin ke gym setiap tiga hari dalam seminggu, pegawai tempat itu mengakui bahwa cukup mengenal korban. Terakhir kali korban kesana adalah tanggal 27 mei 2017. Sedangkan dari keterangan kepolisian korban meninggal dua hari setelahnya.  Di hari sebelum kejadian ada total empat orang yang mengunjungi tempat tersebut di jam yang sama dengan korban, namun informasi yang tertera di buku resepsionis hanya terbatas dengan nomor handphone masing - masing orang, tapi kurasa itu cukup untuk selanjutnya meminta keterangan korban dari orang - orang itu.

Aku kembali ke kantor menyerahkan beberapa data yang ku dapat tadi. Hanya tinggal Bowo yang ada di ruangan.

"Kau sudah memintai keterangan dari mereka?"
"Mereka mengaku tak mengenali korban, namun ada satu orang yang kenal dengan korban, dan dia bilang tak terlalu dekat dengannya."
"Lalu?"
"Aku meninggalkan nomer telponku padanya, dia bilang akan menghubungiku jika dia mengertahui info lebih tentang korban"
"Bagaimana dengan calon pengantin? Kau tidak mendapat info tambahan lainnya"

Aku mendesah dan dengan pasrah kuletakkan tasku.

"Juga Belum"

Ini sudah delapan hari sejak kasus tersebut, tapi hanya informasi itu saja yang bisa kami dapatkan. Kurebahkan badanku di kursi. Aku yakin pasti ada benang merah dari semua data ini, tapi aku masih belum menemukannya. Mataku mengerjap menatap langit - langit kantor, dan aku terlelap.

Lanjut Baca Kasus Pembuka Part 3




© Journal Holic By Anis Wardhani

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah mengunjungi Journal Holic, Silahkan Berkomentar dibawah ini.

SUBSCRIBE ^^

recent posts

Instagram @aniswardhani_