Buk, Ku Inginkan Kau Bahagia

January 24, 2018

Saya ingat saya pernah dengar salah satu boosternya ust. Hanan Attaki yang dapat hidayah dari boosternya sendiri. Eh ternyata saya juga ngalamin. Kemarin, saya bincang - bincang sama ibu saya diatas motor habis muter - muter cari sayur di mangga dua seperti biasanya. Sebenernya tombo kangen juga sih hehe saya ditinggal seminggu lebih sama ibu ke Sangatta, berkunjung ke rumah besan, ibu mertua kakak saya. Saya dengan ibu saya itu sudah seperti BFF lah, kemana - mana berdua, ngerumpi bareng, diskusi mulai dari yang ecek - ecek sampai yang serius. Lalu kemarin ditengah - tengah omongan saya nyeletuk "Ya kita ini hidup kalau mau diperhatikan orang ya harus mau perhatian dulu sama orang lain." setelahnya saya terdiam. Saya sering bilang sama ibu "Ibukku sayang..." ungkapan yang mungkin cuma gombal buat ibu saya. tapi, sudahkah saya benar - benar perhatian dengan dirimu, Buk? 

Sering kali, dalam do'a - do'a yang kita panjatkan, kita minta diberi anak yang sholeh shalihah, yang bisa menjadi syafaat ketika diri ini telah dipanggil oleh-Nya. Kita yang mungkin sudah menikah atau punya anak, bahkan sudah menimang cucu. Namun, tetap saja status kita sebagai anak dari orang tua kita tetap tidak akan terganti. Kita lah anak mereka, yang mungkin sejak dulu do'a mereka sama untuk kita. Mereka mintakan pada-Nya anak yang sholeh dan sholihah.  

Sungguh kasih sayang orang tua pada kita tiada tara. Mungkin bentuknya saja yang berbeda - beda. Ada orang tua yang benar - benar menunjukkan dan mengekspresikan kasih sayangnya atau beberapa orang lebih memilih bersikap dalam diam, namun sesungguhnya dibalik diamnya tersebut terselip kasih sayang yang sungguh besar dari orang tua untuk anak tercinta, yang sering kali tidak dipahami oleh si anak. Sehingga dengan teganya anak mengklaim bahwa orang tuanya tidak mencintainya.

Saya akui, saya ini dari kecil memang berbeda dengan kakak - kakak saya. Dari TK saya nakal sekali, bikin geleng - geleng tetangga juga kadang, kalau nangis satu perumahan dengar semua, sukanya bikin onar di sekolah sampai ibu saya harus dipanggil kepala sekolah berkali - kali. Sebenarnya, keluarga saya memang sangat disiplin tapi tidak pernah ada yang namanya memukul anak, ya lagi pula kakak - kakak saya mungkin dibentak saja sudah takut dan mau dimarahi apa lagi karena mereka setidaknya selalu berprestasi di sekolah, lha saya? dulu saya selalu bangga kalau ranking saya delapan dibanding ranking tetangga saya yang angkanya satu, tegak berdiri begitu aja ! saya jawab "kan delapan angkanya lebih banyak, lebih bagus dong" :D Semenjak saya ada, saking nakalnya saya, saya sepertinya memang berhak menerima sedikit pukulan. hehehe. Hingga akhirnya dititik akhir SD mau kelulusan, saya ingin berubah. Saya ingin masuk pesantren buat taubat. hehehe dan disitulah saya melihat betapa ibu sangat mencintai saya. 

Saya mondok di pesantren yang nggak jauh - jauh amat sebenernya, di kota juga, di Surabaya juga. Kebetulan karena ibu di rumah sendirian dan kalau dari rumah yang lama mau ke pondok itu jauh, jadi ibu saya pindah ke rumah yang dekat pondok. Biar gampang kalau mau sambang saya katanya. Awalnya saya cuma berat karena nggak bisa lagi liat kartun kesayangan saya tiap minggu pagi seperti biasanya. Eh ternyata tiap dua hari sekali saya harus ngantri di warnet pondok terus nangis mewek pas telpon kangen minta disambang.😅

Saya bukan dari keluarga yang sangat berada, namun juga bukan dari keluarga yang sangat tidak mampu. Namun, semenjak ayah saya meninggal saat saya masih kecil, ibu menggantikan peran ayah bagi saya dan enam kakak - kakak saya. Kakak - kakak saya kebetulan juga masuk di fakultas kedokteran tiga orang. Sungguh bukan hal mudah, banyak drama dibaliknya. Pesantren saya biayanya juga tidak murah. Ibu harus riwa - riwi untuk mengurus keringanan buat sekolah saya. Alhamdulillah, biaya sekolah saya kemudian dibantu oleh teman almarhum ayah saya. Semoga beliau diberi kesehatan.  Dan Alhamdulillah saya ternyata bisa berubah meski sedikit, ternyata saya sebenarnya nggak bodoh - bodoh amat di sekolah. hehehe 

Ibu saya dulu harus keliling berdagang mulai dari kerupuk, jajanan, baju hingga ngepos di pangkalan taksi untuk jualan kopi pernah ibu jalani. Menurunkan harga diri yang semula menjadi ibu - ibu istri pegawai yang namanya cukup diperhitungkan kemudian banting setir ke penjual kopi demi anak - anaknya, sungguh berat. Ditambah punya anak kecil  nakalnya minta ampun. Ya Robb sayangilah beliau... 

Saya pernah berkata sambil memeluk ibu saya. "Buk nanti kalau misal aku nikah ikut aku ya.." padahal saya itu sampai menitikkan air mata diam - diam dibalik punggungnya eh ibu saya yang memang kurang romantis jawabnya ya "Halah.. emoh... enak nang omah dewe, iso teko endi-endi, nggak bingung anak" artinya "halah.. Nggak mau. enak di rumah sendiri, bisa kemana - mana, nggak bingung anak" 😅  

Lalu ibu bilang. Pokoknya anak - anakku bahagia, Ibu sudah senang, tidak bikin beban. Ya. Hanya sesederhana itu. 

Sungguh kasih Ibu tak terkira. Ibuk, sungguh anakmu ini inginkan kau bahagia. Tapi masih saja hingga saat ini aku masih sering menyakiti hatimu. Engkau bilang inginkan anak yang bisa menjadi penolongmu di akhirat nanti. Namun masih saja, diri ini membuat dosa yang terus mengalir. Doakan kami.. Doakan kami bisa menjadi penghuni surga-Nya dan membawamu bersama kami disana , beserta ayah dan yang lain.










© Journal Holic By Anis Wardhani

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah mengunjungi Journal Holic, Silahkan Berkomentar dibawah ini.

SUBSCRIBE ^^

recent posts

Instagram @aniswardhani_