Mendahulukan Adab Sebelum Ilmu

January 29, 2019




Sesungguhnya belum menjadi kapasitas saya membicarakan adab. Karena diri ini pun bisa jadi yang paling buruk adabnya. Namun biarlah catatan ini menjadi pengingat bagi diri, bahwa ada yang perlu lebih diperhatikan sebelum mencari ilmu. Yakni belajar mengenai adab.

Bila kita mencari orang pintar, kemungkinan akan banyak sekali yang bisa ditemukan. Namun bila mencari orang berilmu serta beradab. Hampir - hampir kita sulit menemukannya, jika tidak dengan sengaja melibatkan diri dengan orang - orang yang sevisi dan misi untuk mempelajari dua hal tersebut. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk karakter diri seseorang.

Pentingnya mempelajari adab berkaitan dengan bagaimana kelak ilmu yang dicari agar memiliki manfaat. Pernah ustadz Salim A Fillah menyampaikan sekilas tentang adab, bahwa dengan adab dan niat yang baik, keliru pun masih akan mendatangkan manfaat.

Ada banyak hal yang cukup meresahkan terkait adab. Terutama di sosial media yang saat ini sudah sangat dekat di kehidupan masyarakat. Hingga banyak istilah yang bermunculan terkait adab di sosial media, nettiquette, hate speech, hoax dll. Banyak yang saling melempar komentar buruk dan tudingan negatif yang gampang sekali disampaikan. Padahal itu ruang publik, dimana semua orang bisa melihat dan membacanya. Bahkan orang lain pun dapat terpengaruh olehnya.

Tingginya gelar dan jabatan yang dimiliki tidak lantas membuatnya menjadi jaminan bahwa orang tersebut lebih baik adabnya. Debat menjadi hobi. Sehingga saat ini banyak sekali yang pintar beretorika namun hanya sampai pada kata, tidak pada tindakan. Janji hanyalah janji, Pagi berkata beras, malam sudah berganti nasi. Bila sudah begitu, rawan sekali mulut akan mengucap dusta.

Sarjana dari universitas ternama, sudah banyak mempelajari kitab a, b, c, d. Ditambah skill yang luar biasa,  Namun ternyata yang paling buruk akhlaknya kepada ibunya, istrinya, anaknya, orang - orang terdekatnya. Lantas untuk apa semua ilmu tersebut ?

Bahkan bagi sesama muslim yang hanya berbeda mazhab bisa kemudian di blokir, dianggap sesat, dianggap kafir. Padahal imam - imam yang punya mazhab dulu pernah menjadi imam dan makmum bersama. Bukankah kebaikan tidak datang dengan diserang ?

Hilangnya adab barang kali berkaitan dengan hati yang tinggi, hati yang merasa besar. Dengan adab maka akan diturunkan sakinah, ketenangan. Tidak kah kita ingin hidup dalam ketenangan di dunia ini?

Sungguh diri ini pun masih butuh banyak berbenah. Maka saya harap, jangan bosan untuk mengingatkan. Mulut ini masih banyak mengucap yang tidak bermanfaat, barang kali malah terkadang dusta. Ibu jari ini juga mungkin banyak memiliki andil dalam keburukan. Semoga Allah ampunkan. Dan semoga yang pernah merasakan pedih atas mulut dan adab penulis ini dilapangkan hatinya untuk memaafkan. Semoga bisa diistiqomahkan menjadi lebih baik. Dan diakhirkan dengan yang baik. Karena amal tergantung pada akhirnya.


© Journal Holic By Anis Wardhani

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah mengunjungi Journal Holic, Silahkan Berkomentar dibawah ini.

SUBSCRIBE ^^

recent posts

Instagram @aniswardhani_